jauh sudah perjalanan
langkah yang dibawa waktu
terpaut pada kebisingan
yang timbulkan perasaan terasing
keramaian yang lahirkan sunyi tak berperi
terpojok dalam kerlap – kerlip gemerlap
yang justru hadirkan sudut gelap
di hutan yang terancam tunggu kepunahan
bertemankan Datuak Godang yang hanya punya senandung keserakahan
sampaikan kesedihan ... tiupkan seruling kepiluan
pada tonggak - tonggak langit yang tak lagi tawarkan keteduhan
kesejukkan yang hilang
saat kerindangan terpangkas dalih pembukaan lahan
. . . dan alam pun berlaku sama
beri panen kemakmuran melalui sumber kehidupan yang berubah jadi bencana
harapan pada asa menjadi ketakutan pada bola – bola mata yang tak paham pancaroba
dan akankah kita ... akan tetap berlaku sama ?
Tampilkan postingan dengan label kato - kato bagalau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kato - kato bagalau. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 April 2010
Selasa, 23 Maret 2010
makna kata yang lari entah kemana
pada malam kau bercerita
di koma engkau bertahta
tentang titik yang menjadi halte persinggahan
bagi kalimat yang tak lebih sebagai kamuflase jiwa
bintang -bintang yang berpendar tebarkan kilau di gelap malam
tapi kenapa kalimat tak juga engkau bermakna ?
kepingan demi kepingan yg coba di kumpulkan
dari huruf menjadi kata
biar bisa menjadi kata – kata
tapi entah kenapa kalimat tak juga engkau bermakna ?
telah di bingkai pada keindahan
kata - kata yang tersusun menjadi norma, etika dan entah apalagi namanya
tapi entah kenapa kalimat engkau masih saja tak bermakna ?
pada malam kau bercerita
di koma kau lepaskan keluh kesah
dan titik tak lagi jadi akhir dari kalimat
kemanakah engkau makna ?
di koma engkau bertahta
tentang titik yang menjadi halte persinggahan
bagi kalimat yang tak lebih sebagai kamuflase jiwa
bintang -bintang yang berpendar tebarkan kilau di gelap malam
tapi kenapa kalimat tak juga engkau bermakna ?
kepingan demi kepingan yg coba di kumpulkan
dari huruf menjadi kata
biar bisa menjadi kata – kata
tapi entah kenapa kalimat tak juga engkau bermakna ?
telah di bingkai pada keindahan
kata - kata yang tersusun menjadi norma, etika dan entah apalagi namanya
tapi entah kenapa kalimat engkau masih saja tak bermakna ?
pada malam kau bercerita
di koma kau lepaskan keluh kesah
dan titik tak lagi jadi akhir dari kalimat
kemanakah engkau makna ?
Minggu, 28 Februari 2010
walau sesaat
sesaat . . . ya walau sesaat .... binaran yang tertangkap bawaku melayang, berselancar di pusaran ombak, arungi pusat magnet hari - hari yang telah terjalani.
sesaat . . . ya walau sesaat .... binaran yang terungkap bawaku pada ketentraman, keindahan yang tak lekang, kesejukkan yang tak menjemukan.
sesaat . . . ya walau sesaat .... hanya sesaat .... tapi kurasakan begitu nikmat
sesaat . . . ya walau sesaat .... binaran yang terungkap bawaku pada ketentraman, keindahan yang tak lekang, kesejukkan yang tak menjemukan.
sesaat . . . ya walau sesaat .... hanya sesaat .... tapi kurasakan begitu nikmat
Label:
kato - kato bagalau
Minggu, 07 Februari 2010
SI PENAKUT YANG TAK KETAKUTAN
di ambang batas ragu
telah ku tentukan langkahku,
penat dan candu
takkan pernah membuatku layu,
satu sikap mantap walau penuh rayu,
tapi ku kan slalu maju.
terantuk
tersungkur
terguling
lembah sunyi adalah suatu konsekwensi,
dan aku tahu …sangat tahu
... bahwa …
akan ada akhir dari sebuah permulaan.
berpijak pada keyakinan
… entah angkuh atau sombong ...
tapi telah tertera baris kata,
terukir,
terpahat indah,
kuat menyekat
di dalam lorong pusara hati
... pada liang hari – hari ...
telah hilang senyum tersunging
... munkin ...
malah telah berganti seringai,
menatap tak mengerti
pada langkah
yang tinggalkan taman bunga,
sejumput surga dari dunia fana.
tegapkan kaki
coba atur hari – hari
yang tak bisa di pahami
walau hati …
takkan pernah bisa di bohongi,
tapi kan terus bergerak,
melangkah,
... langkah maju …
seiring detak waktu.
telah ku tentukan langkahku,
penat dan candu
takkan pernah membuatku layu,
satu sikap mantap walau penuh rayu,
tapi ku kan slalu maju.
terantuk
tersungkur
terguling
lembah sunyi adalah suatu konsekwensi,
dan aku tahu …sangat tahu
... bahwa …
akan ada akhir dari sebuah permulaan.
berpijak pada keyakinan
… entah angkuh atau sombong ...
tapi telah tertera baris kata,
terukir,
terpahat indah,
kuat menyekat
di dalam lorong pusara hati
... pada liang hari – hari ...
telah hilang senyum tersunging
... munkin ...
malah telah berganti seringai,
menatap tak mengerti
pada langkah
yang tinggalkan taman bunga,
sejumput surga dari dunia fana.
tegapkan kaki
coba atur hari – hari
yang tak bisa di pahami
walau hati …
takkan pernah bisa di bohongi,
tapi kan terus bergerak,
melangkah,
... langkah maju …
seiring detak waktu.
Label:
kato - kato bagalau
Kamis, 04 Februari 2010
KENANGAN SAAT BOCAH
Lihat foto ini, aku jadi ingak kakek, bapaknya ibundaku ( kami biasa memanggil beliau “ABAK”). Kalau aku jalan sama beliau di bonceng naik sepeda unto ( ontel ), dulu…orang bilang aku mirip beliau…” ko sia ko? Cucu datuak yo, mirip wajahnyo jo datuak”….
Yg lain bilang,” sorot matonyo samo bana jo datuak”……
aku bangga, padahal mataku agak juling lho, beliau tidak, he he he ... kalo wajah abak lebih runcing dagunya dari aku,…..jadi kangen sama beliau…
Udin Datuak Rajo Nan Sati, datuak suku chaniago, bertubuh kurus tinggi, sorot matanya teduh..tapi kokoh pada prinsip.
Hari itu, aku lagi menikmati libur sekolah di kampung,..lagi menikmati kue masakan nenek, datang tamu, ku tak tahu apa yang di bicarakan, tapi abak marah….
Setelah si tamu berlalu abak mengajakku pergi, naik sepeda unto kami menuju pantai…setibanya disana, kami disambut tegur sapa ramah dari nelayan yang pulang melaut, kebanyakan anak kemenakan beliau……..
Matanya jauh memandang ke depan,….
tidak pada nelayan yang sedang melipat jalanya….
atau nelayan yang sedang menarik biduak beramai-ramai ke tepi,….
tidak juga pada pulau cingkuak yang ada di depan…
tapi jauh ke tengah laut, seolah-olah beliau bisa melihat ujung langit di sebelah sana…..….kemarahannya belum reda….
Di gulungnya rokok nipah bersama tembakau…di sulut…dihisapnya dalam..
Kemudian beliau berujar ,
“ laki-laki merupakan paga nagari, tonggak rumah gadang, panjago harato pusako..bukan jadi tukang hamburkan, panjua tanah panjua warisan.”
Satu hisapan lagi …asap mengepul tertiup angin, melanjutkan kata,
” laut tak selamanya bisa jadi sandaran, maka sawah ladang jangan di jual, tak semua anak kemenakan bisa jadi orang pintar, dengan apa mereka akan makan ?”
Berhenti lagi…sedotan yang kuat…kerisauan bercengkrama dengan angin pantai…
“ jangan sampai anak painan jadi pendatang di kampuangya sendiri, jangankan sawah jo ladang, sepetak tanah untuk rumah tinggal pun nanti tak punya,…kemana mereka akan pulang ? dimana mereka akan tinggal?”
Beliau menoleh, menatapku …dalam sangat dalam…begitu teduh..aku bagai terhipnotis…
“ kalau besar jangan mau di perbodoh orang, jangan mementingkan diri sendiri apalagi hanya untuk menuruti nafsu duniawi…, seandainya kamu jadi orang pintar jangan bodohi kaummu,…..belajarlah yang rajin….”
Aku hanya diam memandangnya, aku hanya seorang bocah kecil yang belum mengerti apa-apa…….
Ku linting daun nipah, tergulung bersama tembakau, ku bakar dan kusulut lembut, kunikmati kebersamaan di pagi itu..berdiri di samping kakek, memandang laut sambil rokok nipah terselip di antara dua jari…walau berlagak dewasa, aku tetap tak mengerti…
Merokok ? ….ada pameo untukku di kalangan keluarga….he hehehe
Saat dikepala ada kemarahan-kemarahan, emosi yang tak terkendali, saat rasa lelah menghinggapi, aku jadi sering memandang laut, berdiri di pasir pantai sambil mata jauh memandang ke tengah, kebisaan yang melekat sampai sekarang, …tak kusadari, kebiasaan itu timbul karena sebuah kenangan … kenangan akan ABAK …
Walau beliau sudah tiada, saat aku kelas 3 SD, tapi sepertinya kenangan itu seperti tergambar jelas, membayang di ingatan…..Kerisauan yang muncul di suatu pagi, tentang negri, tentang munculnya generasi pintar tapi kosong…generasi yang menitipkan rasa peduli pada materi, generasi yang menitipkan rasa peduli pada publikasi …….
Keluh kesah lagi…lebih baik ku bernyanyi menghibur hati…
Tanah pertiwi anugerah illahi jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah illahi jangan makan sendiri
Aku heran satu kenyang seribu kelaparan
Aku heran keserakahan di agungkan
Aku heran yang salah di pertahankan
Aku heran yang benar di singkirkan.............
Yg lain bilang,” sorot matonyo samo bana jo datuak”……
aku bangga, padahal mataku agak juling lho, beliau tidak, he he he ... kalo wajah abak lebih runcing dagunya dari aku,…..jadi kangen sama beliau…
Udin Datuak Rajo Nan Sati, datuak suku chaniago, bertubuh kurus tinggi, sorot matanya teduh..tapi kokoh pada prinsip.
Hari itu, aku lagi menikmati libur sekolah di kampung,..lagi menikmati kue masakan nenek, datang tamu, ku tak tahu apa yang di bicarakan, tapi abak marah….
Setelah si tamu berlalu abak mengajakku pergi, naik sepeda unto kami menuju pantai…setibanya disana, kami disambut tegur sapa ramah dari nelayan yang pulang melaut, kebanyakan anak kemenakan beliau……..
Matanya jauh memandang ke depan,….
tidak pada nelayan yang sedang melipat jalanya….
atau nelayan yang sedang menarik biduak beramai-ramai ke tepi,….
tidak juga pada pulau cingkuak yang ada di depan…
tapi jauh ke tengah laut, seolah-olah beliau bisa melihat ujung langit di sebelah sana…..….kemarahannya belum reda….
Di gulungnya rokok nipah bersama tembakau…di sulut…dihisapnya dalam..
Kemudian beliau berujar ,
“ laki-laki merupakan paga nagari, tonggak rumah gadang, panjago harato pusako..bukan jadi tukang hamburkan, panjua tanah panjua warisan.”
Satu hisapan lagi …asap mengepul tertiup angin, melanjutkan kata,
” laut tak selamanya bisa jadi sandaran, maka sawah ladang jangan di jual, tak semua anak kemenakan bisa jadi orang pintar, dengan apa mereka akan makan ?”
Berhenti lagi…sedotan yang kuat…kerisauan bercengkrama dengan angin pantai…
“ jangan sampai anak painan jadi pendatang di kampuangya sendiri, jangankan sawah jo ladang, sepetak tanah untuk rumah tinggal pun nanti tak punya,…kemana mereka akan pulang ? dimana mereka akan tinggal?”
Beliau menoleh, menatapku …dalam sangat dalam…begitu teduh..aku bagai terhipnotis…
“ kalau besar jangan mau di perbodoh orang, jangan mementingkan diri sendiri apalagi hanya untuk menuruti nafsu duniawi…, seandainya kamu jadi orang pintar jangan bodohi kaummu,…..belajarlah yang rajin….”
Aku hanya diam memandangnya, aku hanya seorang bocah kecil yang belum mengerti apa-apa…….
Ku linting daun nipah, tergulung bersama tembakau, ku bakar dan kusulut lembut, kunikmati kebersamaan di pagi itu..berdiri di samping kakek, memandang laut sambil rokok nipah terselip di antara dua jari…walau berlagak dewasa, aku tetap tak mengerti…
Merokok ? ….ada pameo untukku di kalangan keluarga….he hehehe
Saat dikepala ada kemarahan-kemarahan, emosi yang tak terkendali, saat rasa lelah menghinggapi, aku jadi sering memandang laut, berdiri di pasir pantai sambil mata jauh memandang ke tengah, kebisaan yang melekat sampai sekarang, …tak kusadari, kebiasaan itu timbul karena sebuah kenangan … kenangan akan ABAK …
Walau beliau sudah tiada, saat aku kelas 3 SD, tapi sepertinya kenangan itu seperti tergambar jelas, membayang di ingatan…..Kerisauan yang muncul di suatu pagi, tentang negri, tentang munculnya generasi pintar tapi kosong…generasi yang menitipkan rasa peduli pada materi, generasi yang menitipkan rasa peduli pada publikasi …….
Keluh kesah lagi…lebih baik ku bernyanyi menghibur hati…
Tanah pertiwi anugerah illahi jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah illahi jangan makan sendiri
Aku heran satu kenyang seribu kelaparan
Aku heran keserakahan di agungkan
Aku heran yang salah di pertahankan
Aku heran yang benar di singkirkan.............
Langganan:
Postingan (Atom)
